Kamis, 19 Juni 2014

Pendekatan dan Metode Pembelajaran dalam Kurikulum 2013

Dalam draft Pengembangan Kurikulum 20013 diisyaratkan bahwa proses pembelajaran yang dikehendaki adalah pembelajaran yang mengedepankan pengalaman personal melalui observasi (menyimak, melihat, membaca, mendengar), asosiasi, bertanya, menyimpulkan, dan mengkomunikasikan. Disebutkan pula, bahwa proses pembelajaran yang dikehendaki adalah proses pembelajaran yang berpusat pada peserta didik (student centered active learning) dengan sifat pembelajaran yang kontekstual. (Sumber: Pengembangan Kurikulum 20013, Bahan Uji Publik, Kemendikbud).
Apakah ini sesuatu yang baru dalam pendidikan kita? Saya meyakini, secara konseptual proses pembelajaran yang ditawarkan dalam Kurikulum 2013 ini bukanlah hal baru. Jika kita cermati  kurikulum 2004 (KBK) dan Kurikulum 2006 (KTSP), pada dasarnya menghendaki proses pembelajaran yang sama seperti  apa yang tersurat dalam Kurikulum 2013 di atas. Pada periode KBK dan KTSP, kita telah diperkenalkan atau bahkan kebanjiran dengan aneka konsep pembelajaran mutakhir, sebut saja: Pembelajaran Konstruktivisme, PAKEM, Pembelajaran Kontekstual, Quantum LearningPembelajaran Aktif, Pembelajaran Berdasarkan Masalah, Pembelajaran Inkuiri, Pembelajaran Kooperatif dengan aneka tipenya, dan sebagainya.
Jika dipersandingkan dengan Kurikulum 2013, konsep-konsep pembelajaran tersebut pada intinya tidak jauh berbeda. Permasalahan muncul ketika ditanya, seberapa jauh konsep-konsep pembelajaran mutakhir tersebut telah terimplementasikan di lapangan?
Berikut ini sedikit cerita saya tentang contoh kasus implementasi pembelajaran mutakhir selama periode KBK dan KTSP, yang tentunya tidak bisa digeneralisasikan. Dalam berbagai kesempatan saya sering berdiskusi dengan beberapa teman guru, dengan mengajukan pertanyaan kira-kira seperti ini:
Anggap saja dalam  satu semester terjadi 16 kali pertemuan tatap muka, berapa kali Anda melaksanakan pembelajaran dengan menerapkan konsep pembelajaran mutakhir?
Jawabannya beragam, tetapi sebagian besar tampaknya cenderung menjawab bahwa pendekatan yang sering digunakan adalah pendekatan pembelajaran konvensional dengan kekuatan intinya pada penggunaan metode ceramah (Chalk and Talk Approach).
Berkaitan dengan permasalahan implementasi pendekatan dan metode pembelajaran mutakhir dalam KBK dan KTSP, setidaknya saya melihat ada 2 (dua) sisi permasalahan yang  berbeda, tetapi tidak bisa dipisahkan:
1.  Masalah keterbatasan keterampilan (kemampuan).
Untuk masalah yang pertama ini dapat dibagi ke dalam dua kategori: (a) kategori berat, yaitu mereka yang menunjukkan ketidakberdayaan. Jangankan untuk mempraktikan jenis-jenis pembelajaran mutakhir, mengenal judulnya pun tidak. Yang ada dibenaknya, ketika mengajar  dia berdiri di depan kelas – atau bahkan hanya duduk di kursi guru- sambil berbicara menyampaikan materi pelajaran mulai dari awal sampai akhir pelajaran, sekali-kali diselingi dengan tanya jawab. Itulah yang dilakukannya secara terus menerus sepanjang tahun;  dan (b) kategori sedang. Relatif lebih baik dari yang pertama, mereka sudah mengetahui jenis-jenis pembelajaran mutakhir tetapi mereka masih mengalami kebingungan dan kesulitan untuk menerapkannya di kelas, mereka bisa mempraktikan satu atau dua metode pembelajaran mutakhir tetapi dengan berbagai kekurangan di sana-sini.
2. Masalah keterbatasan motivasi (kemauan).
Untuk masalah yang kedua ini, pada umumnya dari sisi kemampuan tidak ada keraguan. Mereka sudah memiliki pengetahuan dan keterampilan tentang pembelajaran mutakhir yang lumayan, tetapi sayangnya mereka kerap dihinggapi penyakit keengganan untuk mempraktikannya. Mereka memperoleh pengetahuan dan keterampilan dari berbagai pelatihan dan workshop yang diikutinya. Sepulangnya dari kegiatan pelatihan, semangat mereka berkobar-kobar, nge-full bak batere HP yang baru di-charge, tetapi lambat laun semangatnya memudar dan akhirnya padam, kembali menggunakan cara-cara lama. Hasil pelatihan pun akhirnya menjadi sia-sia.
Kembali kepada persoalan Pendekatan dan  Metode Pembelajaran dalam Kurikulum 2013. Pemerintah saat ini telah menyiapkan strategi pelatihan bagi guru-guru untuk kepentingan implementasi Kurikulum 2013. Hampir bisa dipastikan, salah satu materi yang diberikan dalam pelatihan ini yaitu berkaitan dengan penguasaan pengetahuan dan keterampilan guru dalam mengembangkan pendekatan dan  metode pembelajaran yang sejalan dengan Kurikulum 2013.
Pelatihan untuk penguatan keterampilan guru tentang teknis pembelajaran memang penting. Kendati demikian saya berharap dalam rangka implementasi Kurikulum 2013 ini, tidak hanya bertumpu pada sisi keterampilan saja, tetapi seyogyanya dapat menyentuh pula aspek motivasional. Dalam arti, perlu ada upaya-upaya tertentu untuk membangun kemauan dan komitmen guru agar dapat menerapkan secara konsisten berbagai pendekatan dan metode pembelajaran yang sejalan dengan tuntutan Kurikulum 2013. Bagi saya, upaya menanamkan dan melanggengkan motivasi dan komitmen ini tidak kalah penting atau bahkan mungkin lebih penting dari sekedar menanamkan kemampuan.
Jika ke depannya kita bisa secara konsisten menerapkan berbagai pendekatan dan metode pembelajaran yang sejalan dengan Kurikulum 2013, niscaya kehadiran Kurikulum 2013 akan lebih dirasakan manfaatnya. Dan tampak disini pula letak perbedaan yang sesungguhnya antara Kurikulum 2013 dengan Kurikulum sebelumnya.  Tetapi jika tidak, lantas apa bedanya antara Kurikulum 2013 dengan Kurikulum sebelumnya?

Minggu, 19 Mei 2013

PERBAIKAN GAPOK/INPASING ONLINE

REKAP UPDATE DATA PER 20 MEI 2013 PDF Print E-mail
Monday, 20 May 2013 00:22
REKAP DATA PER 20 MEI 2013 SUDAH DAPAT DI DOWNLOAD, DIBERTAHUKAN KEPADA BAPAK/IBU GURU YG MASIH BERSTATUS BELUM UPDATE/MASIH EDIT HARAP SEGERA MELAKUKAN PERBAIKAN DATA SEGERA MENGINGAT BATAS WAKTU UPDATE DATA UNTUK PENGAJUAN SK TUNJANGAN PROFESI PERIODE JANUARI-JUNI 2013 AKAN BERAKHIR PADA TANGGAL 31 MEI 2013
Last Updated on Monday, 20 May 2013 00:22
 
PERBAIKAN GAPOK/INPASING ONLINE PDF Print E-mail
Saturday, 18 May 2013 05:11
DIBERITAHUKAN KEPADA BAPAK/IBU GURU BAHWA PERBAIKAN DATA TUNJANGAN PROFESI YG TIDAK SESUAI DENGAN GAJI POKOK/INPASING UNTUK GURU/PENGAWAS SECARA ONLINE , DILAKUKAN DENGAN KETENTUAN SEBAGAI BERIKUT :
  1. PERBAIKAN DATA SECARA ONLINE DILAKUKAN PADA AWAL JUNI 2013 ( MENUNGGU JADWAL )
  2. PERBAIKAN HANYA BISA DILAKUKAN OLEH OPERATOR SUDIN/KABUPATEN/KOTA
  3. JIKA USULAN PERBAIKAN DITERIMA MAKA BESARAN GAJI POKOK UNTUK PEMBAYARAN TRIWULAN BERIKUTNYA AKAN DISESUAIKAN BERIKUT DENGAN KEKURANGAN PEMBAYARAN TRIWULAN SEBELUMNYA ( DIRAPEL)
  4. HASIL VERIFIKASI AKAN DAPAT DILIHAT DILEMBAR INFO SEHINGGA BAPAK/IBU GURU TIDAK PERLU DATANG/MELAPOR KE PUSAT/KEMENDIKNAS/SENAYAN
  5. USULAN PERBAIKAN DATA GAPOK PNS YG SUDAH DIUSULKAN SEBELUMNYA HANYA UNTUK PENCAIRAN TUNJANGAN TRIWULAN PERTAMA SAJA ( OFF LINE )
  6. BERKAS YG HARUS DISIAPKAN ADALAH SEBAGI BERIKUT :
  • FOTO COPI SK INPASING YG TELAH DILEGALISIR OLEH BIRO KEPEGAWAIAN KEMENDIKBUD RI ATAU DINAS PENDIDIKAN SETEMPAT DENGAN MEMPERLIHATKAN SK INPASING ASLINYA.
  • FOTO COPI SK KGB PERDESEMBER 2012 ( UNTUK PNS)
  • FOTO COPI SLIP GAJI POKOK BULAN JANUARI 2013 ( UNTUK PNS)
  • FOTO COPI SERTIFIKAT PENDIDIK
  • KARTU NUPTK/NRG
  • FOTO COPI SK KOLEKTIF TUNJANGAN PROFESI TAHUN 2013
  • FOTO COPI  BUKTI TRANSWER DARI BANK/BUKU TABUNGAN

Minggu, 12 Mei 2013

Penerbitan SK Tunjangan Profesi Guru Capai 60,1 Persen


Guru - ilustrasi
Guru - ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penerbitan Surat Keputusan (SK) Tunjangan Profesi Guru (TPG) untuk jenjang pendidikan dasar (dikdas) sudah mencapai 60,1 persen.
Demikian yang diungkapkan Direktur Pembinaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PTK) Dikdas Kemdikbud, Sumarna Surapranata, di Jakarta, Rabu (1/5). Menurut Sumarna baru ada 52.811 dari 87.836 guru yang memenuhi kriteria untuk diterbitkan SK-nya terkait dengan TPG.
Yang belum diterbitkan, Sumarna mengatakan, karena tidak memenuhi dua syarat utama penerima TPG sesuai UU No 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dan PP No 74 Tahun 2005 pasal 15 ayat 2 yakni mengajar sesuai sertifikat pendidikan dan mengajar sebanyak 24 jam per minggu.

"Jika dua syarat itu tidak dipenuhi maka TPG tidak bisa disalurkan," kata Sumarna.

Sumarna mengatakan jika ada guru yang SK TPG-nya belum terbit kemungkinan disebabkan karena tidak memenuhi dua syarat tersebut seperti tidak mengajar 24 jam dalam seminggu atau mengajar tidak linier dengan sertifikat latar belakang pendidikannya.

Selain itu, kemungkinan terdapat kesalahan pengisian data/ belum mengupdate Data Pokok Pendidikan (Dapodik) sehingga tidak ada info terkait guru tersebut apakah aktif, meninggal, pensiun, atau pindah ke struktural lainnya; Nomor Unit Pendidik dan Tenaga Kependidikan (NUPTK) yang salah, atau belum memiliki Nomor Registrasi Guru (NRG).

"Sistem sudah betul, tapi masalah ada pada guru. Ada juga yang memanipulasi data. Tidak mengajar 24 jam ditulis 24 jam," kata Sumarna.

Sumarna mengungkapkan terdapat 7.164 guru SD yang tidak memenuhi syarat untuk mendapatkan SK TPG dengan rincian 4.838 guru mengajar 24 jam tapi tidak sesuai (mengajar mata pelajaran yang tidak linier dengan sertifikasi pendidikannya) dan 962 guru mengajar di bawah 24 jam.

"Jika sudah sesuai syarat cetak SK, TPG akan langsung ditransfer ke rekening guru bersangkutan," ujarnya.

Lebih lanjut Sumarna menjelaskan, Dapodik merupakan sebuah sistem online yang diterapkan Direktorat P2TK Dikdas Kemdikbud untuk menvalidasi data guru yang berhak mendapatkan TPG. Namun, untuk saat ini, Dapodik yang sudah digunakan sebagai data acuan penyaluran TPG, hanya untuk guru jenjang pendidikan dasar (dikdas).
Untuk guru jenjang pendidikan menengah (dikmen) dan PAUD masih dilakukan secara manual (offline). "Sementara dikmen dan PAUD masih offline (manual). Tapi, tidak menutup kemungkinan untuk dikdas masih ada yang offline karena keterbatasan akses internet misalnya di daerah 3T," ujarnya.

Mekanisme offline, Sumarna menjelaskan, dilakukan dengan mengirimkan data penerimaan tunjangan tahun lalu ke kabupaten/ kota untuk diverifikasi. Kemudian, dengan data tersebut pusat melakukan perbaikan data hasil verifikasi yang kemudian dikirim kembali ke kabupaten/kota, hingga SK pun diterbitkan berdasarkan data hasil verifikasi pusat.
  
Sumarna mengatakan dalam pengimplementasian Dapodik, pihaknya telah melatih operator sekolah tentang bagaimana cara memasukan data-data guru dalam Dapodik.

Jika operator sekolah sudah mengirimkan data dalam Dapodik namun belum sesuai, Sumarna mengatakan, sekolah tersebut akan dikirimi surat bahwa data yang masuk tidak sesuai.

Penyaluran TPG dilakukan tiap triwulan yakni April, Juli, Oktober, dan Desember. Penyaluran TPG yang berdasarkan Dapodik bertujuan agar memenuhi 3TA (tepat waktu, tepat jumlah, tepat sasaran, dan akuntabel).

Minggu, 28 April 2013

CEK SK TUNJANGAN PROFESI 2013

CEK SK TUNJANGAN PROFESI 2013

Untuk membantu guru-guru di Indonesia dalam mencari informasi mengenai Tunjangan  Profesi khususnya anggota PGRI Cabang Cengkareng, PGRI Cabang Cengkareng berusaha sebisa mungkin agar guru-guru bisa men- CEK SK TUNJANGAN (Tunjangan Fungsional, Tunjangan Profesi, Tunjangan Khusus dan Bantuan Kualifikasi Akademik) melalui website/ blog PGRI Cabang Cengkareng, Harapan kami semoga pemerintah segera  mencairkan Tunjangan Profesi Guru yang menjadi haknya, sehingga bisa meningkatkan kesejahteraan para guru. 

Silakan Bapak/ Ibu guru Cek SK Tunjangan Profesi Tahun 2013, yang digunakan dasar Pengajuan Pencairan Tunjangan Profesi Guru Bapak, 

Ibu guru dapat mengecek di bawah ini:

Untuk pengecekan data PTK :


Untuk pengecakan status data yg dikirim ke server :

Demikian Info SK Tunjangan Profesi 2013, semoga bermanfaat.


Salam PGRI,

ttd.

Ir. Ade Wira Darmanto
NPA. 0904030514




Sabtu, 15 Desember 2012

Tips :

Guru yang Profesional dan Efektif 

 

Pada era otonomi pendidikan, pemerintah daerah memiliki kewenangan yang amat besar bagi penentuan kualitas guru yang diperlukan di daerahnya masing-masing. Oleh karena itu di masa yang akan datang, daerah benar-benar harus memiliki pola rekrutmen dan pola pembinaan karier guru agar tercipta profesionalisme pendidikan di daerah.
Dengan pola rekrutmen dan pembinaan karier guru yang baik, akan tercipta guru yang profesional dan efektif. Untuk kepentingan sekolah, memiliki guru yang profesional dan efektif merupakan kunci keberhasilan bagi proses belajar-mengajar di sekolah itu. Bahkan, John Goodlad, seorang tokoh pendidikan Amerika Serikat, pernah melakukan penelitian yang hasilnya menunjukkan bahwa peran guru amat signifikan bagi setiap keberhasilan proses pembelajaran. Penelitian itu kemudian dipublikasikan dengan titel: Behind the Classroom Doors, yang di dalamnya dijelaskan bahwa ketika para guru telah memasuki ruang kelas dan menutup pintu-pintu kelas itu, maka kualitas pembelajaran akan lebih banyak ditentukan oleh guru. Hal ini sangat masuk akal, karena ketika proses pembelajaran berlangsung, guru dapat melakukan apa saja di kelas. Ia dapat tampil sebagai sosok yang menarik sehingga mampu menebarkan virus nAch (needs for achievement) atau motivasi berprestasi, jika kita meminjam terminologi dari teorinya McCleland. Di dalam kelas itu seorang guru juga dapat tampil sebagai sosok yang mampu membuat siswa berpikir divergent dengan memberikan berbagai pertanyaan yang jawabnya tidak sekedar terkait dengan fakta, ya-tidak. Seorang guru di kelas dapat merumuskan pertanyaan kepada siswa yang memerlukan jawaban secara kreatif, imajinatif – hipotetik, dan sintetik (thought provoking questions). 
Sebaliknya, dengan otoritasnya di kelas yang begitu besar itu, bagi seorang guru juga tidak menutup kemungkinan untuk tampil sebagai sosok yang membosankan, instruktif, dan tidak mampu menjadi idola bagi siswa di kelas. Bahkan dia juga bisa berkembang ke arah proses pembelajaran yang secara tidak sadar mematikan kreativitas, menumpulkan daya nalar, mengabaikan aspek afektif, dan dengan demikian dapat dimasukkan ke dalam kategori banking concept of education-nya Paulo Friere, atau learning to have-nya Eric From. Pendek kata, untuk melindungi kepentingan siswa, dan juga untuk mengembangkan sumber daya manusia (SDM) di daerah dalam jangka panjang di masa depan, guru memang harus profesional dan efektif di kelasnya masing-masing ketika ia harus melakukan proses belajar-mengajar.
Dalam konteks otonomi pendidikan, hasil penelitian John Goodlad tersebut memiliki implikasi bahwa pemerintah daerah perlu menciptakan sebuah sistem rekrutmen dan pembinaan karier guru agar para guru benar-benar memiliki profesionalisme dan efektivitas yang tinggi supaya ketika ia memasuki ruang kelas mampu menegakkan standar kualitas yang ideal bagi proses pembelajaran. Suatu pekerjaan dikatakan profesional jika pekerjaan itu memiliki kriteria tertentu. Jika kita mengikuti pendapat Houle, ciri-ciri suatu pekerjaan yang profesional meliputi: (1) harus memiliki landasan pengetahuan yang kuat; (2) harus berdasarkan atas kompetensi individual (bukan atas dasar KKN-pen.); (3) memiliki sistem seleksi dan sertifikasi; (4) ada kerjasama dan kompetisi yang sehat antar sejawat; (5) adanya kesadaran profesional yang tinggi; (6) memiliki prinsip-prinsip etik  (kode etik); (7) memiliki sistem sanksi profesi; (8) adanya militansi individual; dan  (9) memiliki organisasi profesi. Dari ciri-ciri ini Kantor Dinas Pendidikan di daerah dapat menterjemahkan ke dalam sistem rekrutmen dan pembinaan karier guru agar profesi-onalisme guru dapat selalu ditingkatkan di daerahnya masing-masing. Tanpa berbuat seperti itu kualitas guru akan selalu ketinggalan dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan kata lain, agar guru tetap profesional perlu ada sistem pembinaan karier yang baik, tersistem, dan berkelanjutan.
Guru yang profesional perlu melakukan pembelajaran di kelas secara efektif. Kemudian, bagaimana ciri-ciri guru yang efektif ? Menurut Gary A. Davis dan Margaret A. Thomas, paling tidak ada empat kelompok besar ciri-ciri guru yang efektif. Keempat kelompok itu terdiri dari: Pertama, memiliki kemampuan yang terkait dengan iklim belajar di kelas, yang kemudian dapat dirinci lagi menjadi (1) memiliki keterampilan interperso-nal, khususnya kemampuan untuk menunjukkan empati, penghargaan kepada siswa, dan ketulusan; (2) memiliki hubungan baik dengan siswa; (3) mampu menerima, mengakui, dan memperhatikan siswa secara tulus; (4) menunjukkan minat dan antusias yang tinggi dalam mengajar; (5) mampu menciptakan atmosfir untuk tumbuhnya kerja sama dan kohesivitas dalam dan antar kelompok siswa; (6) mampu melibatkan siswa dalam meng-organisasikan dan merencanakan kegiatan pembelajaran; (7) mampu mendengarkan siswa dan menghargai hak siswa untuk berbicara dalam setiap diskusi; (8) mampu meminimal-kan friksi-friksi di kelas jika ada.
Kedua, kemampuan yang terkait dengan strategi manajemen pembelajaran, yang meliputi: (1) memiliki kemampuan untuk menghadapi dan menangani siswa yang tidak memiliki perhatian, suka menyela, mengalihkan pembicaraan, dan mampu memberikan transisi substansi bahan ajar dalam proses pembelajaran; (2) mampu bertanya atau memberikan tugas yang memerlukan tingkatan berpikir yang berbeda untuk semua siswa.
Ketiga, memiliki kemampuan yang terkait dengan pemberian umpan balik (feedback) dan penguatan (reinforcement), yang terdiri dari: (1) mampu memberikan umpan balik yang positif terhadap respon siswa; (2) mampu memberikan respon yang bersifat membantu terhadap siswa yang lamban belajar; (3) mampu memberikan tindak lanjut terhadap jawaban siswa yang kurang memuaskan; (4) Mampu memberikan bantuan profesional kepada siswa jika diperlukan.
Keempat, memiliki kemampuan yang terkait dengan peningkatan diri, terdiri dari: (1) mampu menerapkan kurikulum dan metode mengajar secara inovatif; (2) mampu mem-perluas dan menambah pengetahuan mengenai metode-metode pengajaran; (3) mampu memanfaatkan perencanaan guru secara kelompok untuk menciptakan dan mengembang-kan metode pengajaran yang relevan.

Konsep Pelatihan Guru Kurikulum 2013

Master Teacher Jadi Konsep Pelatihan Guru untuk Hadapi Kurikulum 2013

Jakarta --- Konsep pelatihan para guru dalam menghadapi kurikulum 2013 akan dilakukan dengan menggunakan metode master teacher. Guru-guru berprestasi dan memiliki skill atau kemampuan mengajar yang baik akan dilatih terlebih dahulu untuk kemudian menyampaikan ilmu yang didapat kepada guru yang lain. "Bisa guru juara lomba nasional, guru teladan nasional, guru terbaik di sekolah-sekolah swasta, negeri, sekolah internasional, ada juga sebagian dosen dan praktisi sebagai pelatih. Mereka yang akan memberikan pelatihan ke guru-guru yang akan menjadi master teacher," jelas Mendikbud Mohammad Nuh di ruangannya, pada Selasa (11/12) lalu.
 
Tiga hal yang penting dalam pelatihan guru ini adalah materi pelatihan, target guru yang dilatih, dan metode pelatihan yang digunakan. Guru yang mendapat prioritas pelatihan adalah guru kelas I, IV, VII, dan X dengan materi seputar konsep kurikulum baru. "Sebenarnya, opsinya kan ada beberapa terkait teknis pelaksanaan. Tetapi, kemungkinan besar adalah diterapkan pada kelas I, IV, VII, dan X," ujar Menteri Nuh. Ia menjelaskan, setiap pelatihan nantinya akan selalu ada pre-test dan post test. "Dari situ kita lihat master teacher terbaik. Sehingga kita punya stok master teacher," katanya. Salah satu tujuan konsep master teacher ini adalah untuk menumbuhkan rasa percaya diri guru, dan memotivasi guru  untuk berprestasi.

Guru-guru yang akan dipilih untuk mengikuti pelatihan menjadi master teacher tidak hanya berasal dari kota besar, tetapi juga dari tingkat kabupaten. "Kita ingin membangun atmosfer supaya guru berlomba untuk berprestasi. Karirnya tidak hanya berupa tunjangan profesi, pangkat, tapi ada status yang lain, yaitu master teacher," tutur Menteri Nuh.

Pelatihan guru akan dilakukan secara paralel dengan pelatihan master teacher, yaitu berupa angkatan. "Begitu angkatan satu Master Teacher selesai dan dinyatakan qualified, dia langsung terjun ke lapangan, training guru-guru di mana-mana," terang Mendikbud. Sementara angkatan master teacher yang pertama melakukan pelatihan untuk guru-guru, pelatihan angkatan kedua untuk master teacher terus dilakukan, dan seterusnya. Dalam menjalankan pelatihan guru tersebut, Kemdikbud akan terus menjamin quality control para guru yang menjadi peserta pelatihan. (DM-Kemdiknas)

Uji Publik Kurikulum 2013

Tidak Menghapus Mata Pelajaran

iklan3-gbr2
Ada kekhawatiran pada masyarakat jika Kurikulum 2013 diterapkan akan ada penghapusan beberapa mata pelajaran. Kekhawatiran ini dijawab Mendikbud Mohammad Nuh, bahwa tidak ada penghapusan mata pelajaran, yang ada hanya pengintegrasian mata pelajaran.

Wawancara :
Wawancara dengan Mendikbud (Bagian 1, Bagian 2, Bagian 3)

Laman uji publik kurikulum :
http://kurikulum2013.kemdikbud.go.id

Minggu, 25 November 2012

Masih Ada Guru Digaji Rp100 Ribu

JAKARTA -PGRI Cabang Cengkareng. Anggota Komisi X DPR, Raihan Iskandar mengatakan, guru memiliki peran sangat penting bagi pendidikan dan pembentukan generasi. Namun, masih ada guru yang kurang diperhatikan kesejahteraannya.

ILUSTRASI:LAGU LAMA ,UANG LAMA

"Kita akan miris ketika guru tidak diperhatikan kesejahteraannya. Di Semarang, ada guru yang hanya menerima gaji Rp100 ribu per bulannya. Ada juga seorang guru yang terpaksa menjadi pemulung atau tukang ojek demi menambah penghasilan karena gaji sebagai guru tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya," kata Raihan Iskandar kepada wartawan, Minggu, (25/11).



Melihat kondisi seperti ini, kata Raihan, pemerintah harus berusaha untuk meningkatkan kesejahteraan dan kapasitas guru dengan kebijakannya.
Dikatakannya, anggaran untuk gaji dan tunjangan guru terus ditingkatkan. Bagi guru PNS, tiap bulannya guru tersertifikasi mendapat tunjangan sebesar 1 kali gaji pokok. Sedangkan guru non-PNS mendapat tunjangan sebesar Rp1,5 juta tiap bulan.
"Di Provinsi DKI Jakarta, tunjangan kinerja bagi guru PNS cukup tinggi, yaitu sekitar Rp3 juta sedangkan guru Non-PNS tidak dapat. Seharusnya Standar gaji Guru Honorer Non-PNS minimal harus lebih tinggi  dari standar gaji buruh untuk dengan jumlah jam mengajar 24 jam per minggu. Standar upah buruh di Jakarta yang sudah Rp. 2.200.000,- agar Guru di Jakarta lebih sejahtera jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya.
Implikasi dari meningkatnya kesejahteraan guru di bebarapa kota besar ini membawa konsekuensi bertambahnya jumlah peminat lulusan SMA/SMK untuk menjadi guru.
"Peminat Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) pun terus meningkat dari tahun ke tahun. Sebagai contoh, peserta SNMPTN di Universitas Negeri Jakarta pada tahun 2012 adalah 31.435 orang, meningkat dari tahun sebelumnya 31.207 orang," ungkap Raihan.
Di Universitas Negeri Medan trennya juga sama, peserta SNMPTN pada tahun 2011 berjumlah 40.578 orang meningkat menjadi 43.834 orang pada tahun 2012.
Masalahnya adalah guru yang terekrut tidak selalu sesuai dengan kapasitasnya. Menurut Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen disebutkan bahwa seorang guru harus memiliki kapasitas yang meliputi bakat, minat, panggilan jiwa, idealisme, komitmen, kualifikasi akademik, kompetensi dan tanggung jawab, ujar Raihan.
Guru, kata Raihan, tidak selalu lulusan dari FKIP, sehingga kapasitas pedagogik dan mentransfer ilmunya rendah. Hal ini juga salah satu faktor hasil uji kompetensi guru di daerah-daerah relatif rendah. Belum lagi jika bicara dedikasi. Seorang guru dituntut untuk memiliki idealisme dan dedikasi yang tinggi.
"Menjadi guru berbeda dengan profesi lainnya. Seorang guru harus sadar bahwa tugasnya adalah mendidik dan membentuk karakter generasi penerus bangsa," ujar Raihan.

"Tinggal bagaimana kita, para guru, tenaga pendidikan dan pemerintah, mau atau tidak untuk terus mewujudkan kapasitas guru dan tentunya juga kesejahteraannya. Selamat Hari Guru," imbuh Raihan.  
copas from www.pelitakarawang.com

HUT PGRI & HGN Ke -67 di Sentul


Memacu Professionalisasi Guru melalui Peningkatan Kompetensi dan Penegakan Kode Etik”
Jakarta- PGRI Cabang Cengkareng. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan bekerja sama dengan Kementerian Agama dan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI), tahun ini kembali melaksanakan peringatan Hari Guru Nasional tahun 2012 dan HUT ke-67 PGRI.
HGN diperingati setiap tahun pada tanggal 25 November Tahun 2012 ini untuk Wilayah Jakarta di peringati dengan cara melaksanakan Upacara HGN dan Ulang tahun PGRI ke-67 di Taman makam Pahlawan Kalibata, Jakarta Selatan yang di hadiri + 3500 Guru yang berasal dari 5 Wilayah DKI Jakarta (Jakarta Pusat, Jakarta Barat, Jakarta Selatan, Jakarta Utara dan Jakarta Timur), Tanggal 26 November akan di laksanakan berbagai macam lomba yang pelaksanaan acaranya akan si pusatkan di Monas seperti lomba gerak jalan, paduan suara, dll. sedangkan puncak acara secara Nasional akan berlangsung paling lambat satu minggu setelah tanggal 25 November 2012 di Sentul Convention Center, Bogor, Jawa Barat.
“Acara puncak tersebut akan dihadiri Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono bersama para guru, siswa-siswi SD, SMP, SMA/SMK, para pejabat pemerintah, serta pemerhati di bidang pendidikan dan kebudayaan,” tutur Kapus Informasi dan Humas Kemdikbud, Ibnu Hamad, melalui siaran pers di Jakarta, Kamis (15/11/12).
Menurut Ibnu, berbagai persiapan telah dilakukan untuk menyambut kelancaran dan kesuksesan hari guru nasional tersebut. Di antaranya melakukan koordinasi dengan berbagai pihak, baik pihak-pihak yang menjadi peserta upacara maupun koordinasi antarinstansi terkait.
"Upacara bendera peringatan Hari Guru Nasional akan dilaksanakan di setiap instansi pemerintah mulai tingkat pusat sampai daerah tingkat kecamatan," ucap Ibnu.
Ibnu menambahkan, berdasarkan pedoman pelaksanaan upacara penyelenggaraan Hari Guru Nasional tahun 2012 dan HUT ke-67 PGRI, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Menteri Agama dan Ketua Umum PB PGRI menjadi pembina upacara di kantor pusat masing-masing.
Berbagai kegiatan kata dia, akan dilakukan di tingkat pusat maupun daerah seperti pertemuan forum ilmiah guru, lomba kreatifitas guru, ASEAN council of teacher, talkshow di RRI dan TVRI, bakti sosial (donor darah dan kebersihan lingkungan), gerak jalan sehat, ziarah ke Taman Makam Pahlawan serta pemberian penghargaan dan tanda kehormatan kepada mereka-mereka yang telah berjasa di bidang pendidikan dan kebudayaan.
Tema peringatan tahun ini adalah ‘Memacu profesionalisasi guru melalui peningkatan kompetensi dan penegakan kode etik’. “Dengan demikian keberadaan dan peran guru sangat menentukan keberhasilan mutu sistem dan hasil pendidikan yang bermutu dan berkualitas karena hakekat pendidikan itu adalah berlangsung seumur hidup, bersifat semesta dan menyeluruh,” katanya.
Sebagai penghormatan kepada guru, pemerintah melalui Keputusan Presiden Nomor 78 tahun 1994 telah menetapkan tanggal 25 November sebagai Hari Guru Nasional yang dikuatkan oleh UU Nomor 14 tahun 2005 tentang guru dan dosen serta peraturan pemerintah Nomor 74 tahun 2008 tentang Guru.

Rabu, 13 Juni 2012

Guru Jadi Rebutan Bank

Guru Jadi Rebutan Bank

     Guru-guru yang lolos sertifikasi, dibingungkan dengan keharusan punya beberapa rekening bank. Para guru akhirnya menurut saja disuruh untuk membuka rekening bank baru, demi mendapat tunjangan profesi guru yang menjadi haknya. 
      "Guru jadi korban rebutan bisnis bank. Waktu rapel kekurangan pembayaran tunjangan profesi karena kenaikan gaji, guru wajib buka rekening BRI atau Mandiri," kata Iwan Hermawan, Sekretaris Jenderal Federasi Guru Independen Indonesia, Kamis (17/5/2012) di Jakarta.
       Menurut Iwan, di Bandung guru SD dan SMP wajib pindah ke Bank Jabar Banten (BJB), karena ada nota kesepahaman (MoU) BJB dengan Kemdikbud. Untuk SMA cuma disarankan pindah ke BJB.
Namun, kata Iwan, sekarang guru SD dan SMP wajib buka rekening baru walupun sudah punya rekening BJB ."Mungkin dalam MoU ada target jumlah nasabah baru," kata Iwan.
Adapun untuk SMA/SMK, petugas BJB mendatangi sekolah dengan membawa daftar guru dan identitas Nomor Unik Pendidik Tenaga Kependidikan (NUPTK).
      Di Jakarta, kata Sekretaris Jenderal Federasi Serikat Guru Indonesia, Retno Listyarti, menyatakan, para guru juga disuruh membuka rekening baru. Pada Februari lalu ada surat edaran, pembayaran Tunjangan Profesi guru SD dan SMP lewat BRI, dan SMA/SMK lewat Bank Mandiri.
"Buka rekeningnya gampang, tidak perlu uang setoran awal. Tetapi ini bisa membuat bingung guru, karena ketentuannya berubah-ubah," kata Retno.